Ini Komentar Mendikbud Soal Kepala Sekolah Setrum Siswa dengan Dalih Terapi

312

kanalberita.net – Selasa, (2/5/2017), Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Namun mirisnya dunia pendidikan Indonesia kembali dikejutkan dengan kabar tidak sedap yang terjadi baru-baru ini. Sejumlah siswa sekolah dasar disetrum oleh pihak guru yang seharusnya menjadi tokoh panutan para murid. Karena tindakan tersebut, mereka merasakan berbagai gangguan kesehatan.

Kasus yang terjadi di SDN Lowokwaru 3, Kota Malang ini lantas menarik perhatian banyak orang. Termasuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy.

Dengan alasan melakukan terapi kesehatan, Tjipto Yuwono, Kepala Sekolah SDN Lowokwaru 3 berani memberikan setruman kepada anak didiknya. Hal tersebut terjadi selepas pelaksanaan sholat dhuha berjamaah di mushola sekolah.

Beberapa siswa diminta untuk melakukan meditasi sekitar 10 menit seraya menutup mata. Setelah itu, kepala sekolah memberikan perintah agar mereka berdiri di atas sebuah papan yang tela dialiri dengan listrik. Selama proses tersebut berjalan, kepala sekolah menempelkan tespen pada tubuh siswa untuk melihat apakah tubuh mereka dialiri oleh listrik.

Dilansir kompas.com, Senin (1/5/2017), proses yang dikatakan merupakan bagian dari terapi ini merupakan metode untuk membentuk kesehatan pola pikir. Namun hal tersebut dibantah oleh Muhadjir Effendi yang mengaku belum pernah mendengar jika selama ini ada bentuk terapi seperti itu.

“Saya belum pernah mendengar ada terapi setrum listrik,” ungkapnya saat ditemui di JCC, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (3/5/2017), dilansir detik.com.

Tidak membantah tanggapan mendikbud, Wali Kota Malang, Mochammad Anton pun turut mengeluarkan komentarnya. Menurutnya, Tjipto Yuwono menerpkan metode terapi tanpa sebelumnya berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan ataupun Pemkot Malang.

Sementara itu di sisi lain, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemendikbud, Ari Santoso, seperti dilansir detik.com, Rabu (3/5/2017), mengungkapkan, seharusnya ada hubungan yang kuat untuk mendukung bentuk terapi setrum listrik ke para siswa tersebut.

“Apakah terapi itu memenuhi kaidah akademik? Itu ada kajiannya. Tidak bisa langsung asumsi bukan ahlinya. Kalau memang perlu terapi, harus konsultasi kepada ahlinya,” jelas Ari.

Lebih lanjut diungkapkan Muhajir, bahwa dia masih mencari informasi dari penyelidikan terkait kasus tersebut. Jika terbukti, maka dirinya tidak akan segan-segan memberikan sanksi tegas kepada guru. Namun Muhajir berpesan agar penanganan kasus ini dilakukan dengan hati-hati.