Paskibra Menangis Setelah Gagal Naikan Bendera, Diduga Inilah Penyebabnya

2268

bendera 1

kanalberita.net – Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) yang bertugas perayaan Hari Ulang Tahun RI di Kota Pematangsiantar yang berlangsung di Lapangan Adam Malik, Rabu (17/8/2016) terlihat menangis karena sempat gagal menaikan bendera. Banyak isu beredar mengenai insiden yang menggemparkan masyarakat Pematangsiantar tersebut.

“Tarik, Dik, tarik..” teriak salah satu pelatih paskibra memerintahkan anak didiknya agar segera menaikkan bendera saat detik-detik proklamasi yang dihadiri Pj Wali Kota Pematangsiantar, Djumsadi Damanik dan seluruh elemen masyarakat, dikutip dari kompas.com.

Dilansir dari tribunnews.com, kesalahan disebut-sebut karena tiang bendera yang bermasalah, kancing pengikat bendera yang rusak. Namun ada juga yang mengatakan jika ada kekeliruan saat mengikatkan bendera, hingga jika dipaksa untuk menariknya maka bendera akan berkibar dengan posisi terbalik.

Meski demikian, Pembina dan Pelatih Paskibra Siantar, Hotlin Siahaan, menyebutkan bahwa penyebab insiden tersebut terjadi karena kendala dalam pengait bendera. Hotlin menegaskan jika petugas pengerek tidak berani ambil resiko lebih besar jika dipaksakan untuk dinaikan.

“Memang sudah berkali-kali kami keluhkan soal pengait bendera, dan ternyata benar kekhawatiran itu, Paskibraka enggan mengambil resiko yang lebih besar ketika bendera tersebut dinaikkan,” ujarnya.

Meski demikian, sekitar 10 menit kemudian, akhirnya bendera merah putih bisa berkibar setelah dibantu oleh salah seorang pelatih paskibra. Salah seorang pelatih paskibra tampak menangis melihat situasi tersebut. Wajahnya ditutupi topi.

kehebohan-anggota-paskibra-merasa-bersalah-sehingga-menangis_20160817_190214

Hasil penelusuran menunjukan jika ada kemungkinan besar karena lapangan tempat dilakukan upacara tersebut sering dibuat mainan oleh warga secara bebas. Bahkan tiang untuk menaikan bendera tersebut tak jarang dipakai alat untuk menggantung baju dan tempat bergelantungan anak-anak. Hal tersebut diungkapkan oleh Siantar, Abdi Tumanggor.

“Jadi kalau aku ke situ, aku lihat ada lah yang menggantung baju, ditariknya ke atas sampai ujung. Ada pula kadang kayu diikat orang itu. Seringlah, kadang pun kain lap. Jadi mungkin itulah penyebabnya. Apalagi gak ada pula yang melarang,” ujar Abdi, dikutip dari tribunnews.com.

Ia menyesalkan terjadinya peristiwa tersebut, menurutnya hal tersebut tidak terjadi jika panitia teliti dalam mempersiapkan segala sesuatunya.

“Aku yakin bukan ada istilah sabotase, tapi kurangnya perhatian Panitia Upacara HUT di Siantar, maupun Pemko Siantar terhadap hal-hal kecil (tiang bendera) ini, yang akhirnya berdampak besar. di lapangan itu bebas orang bermain apa saja. Panggung semua dicoret-coret yang tak terawat,” ujarnya lagi.