Korea Utara Razia dan Sita Salib dan Semua Simbol Kekristenan

417

175614020160807cal-Korut780x390

kanalberita.net – Pemerintah Korea Utara saat ini melarang beredarnya salib dan simbol kekristenan lainnya. Para petugas rezim Korea Utara melakukan razia toko-toko yang menjual salib, simbol kekristenan, yang dahulu digunakan sebagai tempat Yesus dihukum oleh kaum Yahudi.

Seperti dilaporkan oleh Daily Express (6/8/2016), anak-anak sekolah pun juga harus berhati-hati dalam menulis simbol (+) dalam pelajaran Matematika agar tidak menyerupai seperti salib.

“Siswa bahkan diberitahu untuk berhati-hati bagaimana mereka seharusnya menulis tanda tambah (+) matematis agar jangan sampai keliru seperti salin” tulis media Inggris, yang dikutip oleh Kompas.com

Kompas.com juga menyebutkan bahwa semua produk yang menyerupai salib, seperti dasi kupu-kupu, penjepit rambut, dan bando, serta motif baju pun ikut dirazia.

Peraturan ini diberlakukan oleh rezim pemimpin muda Korea Utara, Kim Jong Un, karena dibawah rezim nya ia ingin memusnahkan orang-orang Kristen dan kekristenan.

Para pejabat sudah dikerahkan untuk menyita semua label yang berbau salib atau menyerupai salib, termasuk label yang ditemukan pada kertas atau gambar, yang dijual di toko.

Alat penjepit pakaian dan rambut apabila menyerupai tanda salib juga diperiksa, dan tak segan-segan disita. Tindakan ini merupakan tindakan tegas untuk menghapus kekristenan di Korea Utara.

“Kami selalu berusaha untuk memastikan tidak ada karakter Korea pada label-label produk yang kami bawa dari China” ujar salah satu pedangang di Pyongyang kepada Radio Free Asia.

“Sekarang kami diharuskan untuk mengecek ulang untuk memastikan bahwa tidak ada sesuatu yang terlihat seperti salib”tambahnya.

“Beberapa desain pada pakaian wanita dapat terlihat seperti salib, tergantung pada siapa yang akan melihatnya”katanya.

Korea Utara sejak awal memang dikenal sebagai Negara yang berbahaya bagi agama Kristen.

Ribuan orang Kristen ditangkap, disiksan, dipenjara, bahkan dihukum mati. Sampai saat ini, sebanyak 70.000 orang Kristen telah dijebloskan ke dalam penjara akibat tetap mempertahankan iman dan keyakinannya.

Mereka pun dipaksa mengikuti aturannya menyembah berhala, jika menolak mereka akan disiksa hingga tewas.

Rezim Jong Un juga melarang tindikan atau pakaian yang bergaya Barat.

Lembaga Kristen tetap berkerja di “bawah tanah” tanpa sepengetahuan pemerintah Korea Utara. Hal ini dilakukan untuk menghindari tekanan darinrezim Jong Un.

Saat ini, media sulit mendapatkan konfirmasi dari Korea Utara karena mereka tertutup dan melarang kegiatan jurnalistik karea diduga bertentangan dengan rezim Jong Un.

Sumber : Kompas.com