Haris Azhar: Freddy Budiman Mengaku Setor Rp 450 Miliar ke BNN

519

freddy

kanalberita.net – Freddy Budiman telah dieksekusi mati pada Jumat (29/7/2016) dini hari di di Pulau Nusakambangan. Akan tetapi sebuah kabar mengejutkan mengenai pengakuan gembong narkoba ini mengenai keterlibatan pejabat negara dalam bisnis haramnya tersebut.

Dilansir dari jpnn.com, sebelum Freddy menghadapi regu tembak, ia ternyata pernah memberikan pengakuan secara khusus ke Koordinator KontraS, Haris Azhar. Freddy dengan gamblang menceritakan banyak oknum aparat hukum Indonesia yang terlibat dalam peredaran narkoba. Ia bahkan menyebutkan ada oknum di Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polri yang ternyata menjadi pemain narkoba.

Kesaksian Freddy Budiman tersebut beredar ramai di media sosial facebook. Dalam tulisan tersebut disebutkan bahwa kisah itu dicerikan oleh Haris Azhar, Koordinator KontraS.

Haris menceritakan awal dirinya bertemu dengan Freddy pada tahun 2014. “Di tengah-tengah masa kampanye Pilpres 2014 dan kesibukan saya berpartisipasi memberikan pendidikan HAM di masyarakat di masa kampanye pilpres tersebut, saya memperoleh undangan dari sebuah organisasi gereja,” tulisnya.

Melalui undangan tersebut Haris mendapat kesempatan untuk bertemu dengan banyak napidana. “Antara lain saya bertemu dengan John Refra alias John Kei, juga Freddy Budiman, terpidana mati kasus Narkoba,” lanjutnya.

Dalam pertemuan dengan Freddy selama dua jam tersebut Haris mendapatkan banyak informasi mengenai bisnis haramnya yang menurut Freddy banyak melibatkan aparat hukum.

“Pak Haris, saya bukan orang yang takut mati, saya siap dihukum mati karena kejahatan saya, saya tahu, resiko kejahata yang saya lakukan. Tetapi saya juga kecewa dengan para pejabat dan penegak hukumnya” tulis Haris yang menirukan pengakuan Freddy.

Freddy lantas menceritakan bagaimana dia mendapatkan keuntungan Rp. 200.000 per butir ekstasi yang ia datangkan dari China. Dari keuntungan tersebut dia mengaku membagi-bagikan kepada pejabat di institusi tersentu.

“Karena saya bisa dapat per butir 200.000. Jadi kalau hanya membagi rejeki 10.000- 30.000 ke masing-masing pihak di dalam institusi tertentu, itu tidak ada masalah,” aku Freddy dalam tulisan tersebut.

Freddy lantas meneruskan ceritanya kepada Haris tentang bagiamana barangnya yang katanya disita oleh aparat penegak hukum ternyata masih beredar di pasaran.

“Ketika saya bawa itu barang, saya ditangkap. Ketika saya ditangkap, barang saya disita. Tapi dari informan saya, bahan dari sitaan itu juga dijual bebas,” lanjut tulisan itu.

Freddy mengaku bahwa sangat mudah membuktikan bahwa barangnya yang disita itu telah bererdar di pasaran.

“Saya tau pak, setiap pabrik yang bikin narkoba, punya ciri masing-masing, mulai bentuk, warna, rasa. Jadi kalau barang saya dijual, saya tahu, dan itu ditemukan oleh jaringan saya di lapangan.”

Lebih lanjut Freddy lantas mengupas secara detail berapa uang yang pernah ia setorkan ke berbagai instansi. “Dalam hitungan saya, selama beberapa tahun kerja menyeludupkan narkoba, saya sudah memberi uang 450 Miliar ke BNN. Saya sudah kasih 90 Milyar ke pejabat tertentu di Mabes Polri,”

Haris juga mendapatkan cerita bagaiaman Freddy pernah menggunakan mobil seorang jendral untuk mengantarkan narkoba. “Bahkan saya menggunakan fasilitas mobil TNI bintang 2, di mana si jendral duduk di samping saya ketika saya menyetir mobil tersebut dari Medan sampai Jakarta dengan kondisi di bagian belakang penuh barang narkoba. Perjalanan saya aman tanpa gangguan apapun,”

Haris lantas mengatakan jika Freddy mengaku jika tujuannya menceritakan hal tersebut kepadanya adalah agar kasus itu segera dibongkar, karena dirinya sudah tidak tahu akan mencerikan hal ini kepada siapa.

“Saya sudah cerita ke lawyer saya, kalau saya mau bongkar, ke siapa? Makanya saya penting ketemu Pak Haris, biar Pak Haris bisa menceritakan ke publik luas. Saya siap dihukum mati, tapi saya prihatin dengan kondisi penegak hukum saat ini,”

Pesan ini kini beredar luas di berbagai media sosial saat Freddy Budiman telah dieksekusi mati.