Dor! 4 Gembong Narkoba Telah Dieksekusi Mati

231

ilustrasi-eksekusi-tembak-mati-dor

kanalberita.net – Jumat, (29/7/2016), pada pukul 00.45 WIB, Kejaksaan Agung sudah mengeksekusi mati 4 Narapidana di Lembaga Permasyarakatan Nusakambangan. Sebelum eksekusi mati dilaksanakan, polisi melakukan penjagaan yang ketat di Dermaga Wijaya Pura.

Cuaca di sekitar Cilacap pada saat eksekusi mati tampaknya juga menunjukkan duka yang mendalam. Petir disertai gemuruh terlihat dari kejauhan. Hal ini juga dibenarkan oleh prakirawan BMKG Cilacap seperti yang dilansir oleh detik.com, bahwa cuaca di sekitar kawasan Nusakambangan dan selatan Pulau Jawa diperkirakan akan turun hujan yang lebat disertai angin yang kencang.

Selain penjagaan yang ketat oleh pihak kepolisian, sebelum eksekusi mati dimulai, jaksa juga mengumpulkan keluarga dan para perwakilan kedubes asing. Salah satunya adalah istri dari Zulfiqar Ali yang datang untuk memberi dukungan kepada suaminya.

Begitu juga dukungan dan pendampingan dari pihak lain, bersama eksekutor para rohaniwan masuk ke Nusakambangan. Kehadiran Romo Carolus Borrow, rohaniwan dari Gereja Katolik setempat, bertujuan untuk memberikan dukungan dan memimpin doa para narapidana mati.

Menurut detik.com, Kejaksaan Agung baru mengeksekusi mati 4 narapidana. Inilah 4 identitas narapidana mati tersebut berikut dengan catatan kriminalnya

  1. Freddy Budiman (37), WNI, kasus impor 1,4 juta butir ekstasi
  2. Michael Titus (34), warga Nigeria, dengan barang bukti 5.223 gram heroin
  3. Humprey Ejike (40), warga Nigeria, barang bukti 300 gram heroin
  4. Cajetan Uchena Onyeworo Seck Osmane (34), warga Afrika Selatan dengan barang bukti 2,4 kg heroin.

Dari keempat narapidana mati tersebut, Freddy Budiman, adalah sosok yang selalu menjadi sorotan masyarakat dan pihak kepolisian. Freddy Budiman yang dipenjara sejak 2009, masih tetap menjalankan bisnis narkobanya dari lapas. Biarpun masih di dalam penjara, ia masih gigih melakukan peredaran narkoba. Berpakain gamis dan berkopiah adalah ‘style’ Freddy Budiman sebelum dieksekusi mati. Sebelum menuju kematiannya, Freddy Budiman banyak melakukan shalawat di ruang tahanannya.

Salah satu narapidana mati yang ditunda eksekusinya adalah Zulfiqar Ali. Kabar ini disambut gembira oleh istri dan keluarganya. Konon katanya, karena penundaan ini sang istri berniat untuk mengadakan acara memberi makan orang-orang miskin di kediamannya.

Hukuman mati di Indonesia menimbulkan pro dan kontra di mata masyrakat. Beberapa berpendapat bahwa ini salah satu pelanggaran HAM karena nyawa manusia sepenuhnya berada di tangan sang pencipta, bukan di tangan manusia Namun, juga ada berpendapat bahwa sudah sepatutnya mereka dihukum mati karena dengan kejahatannya dapat merusak generasi bangsa.

Sumber : CNN.com dan detik.com