Akbar, Pemuda Lugu dari Aceh yang Hampir Menjadi Anggota ISIS

626

160519165717_video_isis_640x360_videopress_nocredit

kanalberita.net – Susoh, Aceh Barat Daya, November 2012, itu adalah awal pertemuan Akbar dengan warga Turki yang pada saat pertemuan menawarkan untuk menggali ilmu dengan jalur beasiswa di Turki. Akbar yang pada saat itu didampingi oleh sang Ayah, berdiskusi di sebuah kedai Kopi.

Tak heran jika Akbar tergugah dengan penawaran tersebut, kala itu Akbar hanyalah seorang remaja yang akan masuk ke jenjang SMA, dimana pada saat itu adalah masa-masa pencarian jati diri. Singkatnya, Akbar memutuskan untuk mendaftarkan dirinya pada beasiswa tersebut.

Di sekolahnya, Akbar adalah sosok siswa yang sangat cerdas, hal ini dibuktikan dengan banyaknya beasiswa yang didapat, namun Akbar mengurungkan niatnya untuk mendaftar di beasiswa lain, ia memutuskan untuk bersekolah di Turki.

BBC.com menyebutkan bahwa Akbar diterima bersekolah di International Anatolian Mustafa Germirli Imam Khatip High School pada September 2013.

Sekitar bulan April 2014 lewat akun facebooknya Akbar mencari tahu serba-serbi ISIS, tak luput dengan bagaimana sistem ‘penerimaan’ sebagai anggota ISIS.

Akhirnya, Akbar bertemu dan menjalin komunikasi lewat media sosial dengan salah satu Anggota ISIS. Komunikasi ini berjalan selama 2 bulan, di dalam ‘masa perkenalan’ tersebut Akbar diperlihatkan video-video tentang pembunuhan di Suriah.

Tentu saja, Akbar yang masih polos belum tahu apa yang benar-benar terjadi di Suriah. Saat itu, Akbar hanya dapat berpikir bahwa perubahan Muslim di Suriah harus segera direalisasikan dengan bergabung dengan ISIS.

Niat jihad Akbar sempat dipertanyakan karena pertemuannya dengan Noor Huda Ismail, seorang remaja yang merupakan aktivis antiterorisme. Di sebuah warung kebab di Kayseri, Turki, Juni, 2014, Noor Huda Ismail berbagi cerita sedikit dengan ajaran radikalisasi yang ia dapatkan sewaktu belajar di pesantren di Solo, Jawa Tengah.

Alasan mendasar Akbar ingin bergabung dengan ISIS, selain ingin berjihad, menenteng senjata adalah hal yang keren bagi Akbar. Namun, pertemuan dengan Noor Huda Ismail mengurungkan niat Akbar untuk bergabung dengan ISIS. Hal ini dikuatkan oleh tangisan ibunya yang melarang Akbar pergi ke Suriah. Akbar memutuskan untuk kembali ke Indonesia pada Juni 2014.

Akbar beruntung sempat bertemu dengan Noor, yang kemudian menyadarkan dirinya tentang betapa bergabung dengan ISIS adalah tindakan salah. Semnetara itu, dua teman Akbar yang lainnya Wildan dan Bagus, dilaporkan tetap berkukuh untuk terjun ke Suriah dan menjadi bagian dari ISIS. Kedua orang tersebut dikabarkan telah tewas, Wildan di Irak dan Bagus di Suriah.

Kasus ini memberikan pelajaran tetang bagaimana mudahnya media sosial jadi sarana perekrutan anggota ISIS dan sangan mungkin sebagai wahana penyebaran ajaran radikal sejenisnya

Sumber : BBC.com