Menjaga Kedamaian di Tanah Maluku dengan ‘Panas Pela’

386

_timthumb-project-code

kanalberita.net – Konflik Maluku 1999 merupakan duka dan luka bagi masyarakat Ambon, Maluku. Insiden berdarah akibat gesekan horizontal tersebut telah banyak memakan korban jiwa. Konflik yang terjadi karena adanya perbedaan latar belakang ini baru mereda pada tahun 2002.

Tak terasa, tujuh belas tahun sudah waktu berlalu dan kini Maluku sedang berbenah dan menjahit kembali ‘kain persaudaraan’ yang dulu pernah terkoyak.

Hal ini tentu mendapatkan respon yang positif dari sejumlah kalangan, termasuk Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Albert Hasibuan.

“Saya pernah berkunjung ke Ambon saat konflik sosial mulai melanda daerah ini Januari 1999. Kala itu pluralisme dan toleransi umat beragama di Maluku benar-benar terkoyak. Tetapi saat ini masyarakat telah hidup rukun dan damai,” kata Hasibuan, di Ambon seperti dilansir antaranews.com.

Ia menambahkan bahwa Ambon dan Maluku adalah daerah khusus yang dikunjungi oleh Dewan Pertimbangan Presiden untuk mengenal lebih dekat dan mengumpulkan berbagai masukan berkenaan dengan toleransi antar umat beragama.

“Ambon salah satu daerah khusus untuk dikunjungi karena daerah ini memiliki sejarah panjang konflik sosial maupun cerita tentang persaudaraan orang Maluku yang luhur,” katanya.

Ia menambahkan, bahwa sebenarnyamasyarakat Maluku mencintai perdamaian. Untuk menjaga kerukunan dan kedamaian, terdapat salah satu budaya leluhur yang dapat dimanfaatkan sebagai alat pemersatu dan peredam konflik. Budaya leluhur tersebut adalah pela-gandong.

Pela Gandong sendiri terdiri dari dua kata yaitu pela dan gandhong. Pela adalah suatu ikatan atau hubungan persaudaraan yang melibatkan dua negeri (kampung/desa) yang masyarakatnya memiliki agama yang berbeda.

Warga Negeri Galala yang mayoritas penduduknya Kristen dan Negeri Hitulama yang mayoritas penduduknya Muslim, mengikuti Ritual Makan Patita atau jamuan makan bersama, pada prosesi budaya "Panas Pela" di Negeri Galala, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Maluku, Selasa (20/10). Budaya Panas Pela merupakan salah satu identitas masyarakat Maluku yang digelar untuk mempererat tali silaturahmi antara dua negeri atau desa, yang sudah terikat sumpah dan ikrar sebagai saudara oleh para leluhur mereka. ANTARA FOTO/Embong Salampessy/foc/15.

Sistem interaksi sosial yang diadopsi adalah solidaritas sosial untuk mewujudkan hidup yang damai. Sedangkan gandong sendiri secara umum berarti ikatan persaudaraan dan ikatan darah. Sehingga, dapat dikatakan bahwa Pela Gandong adalah sebuah tradisi menjalin tali persaudaraan dengan komunitas agama yang berbeda.

Peranan pela ini sendiri juga tampak pada Negeri Galala yang mayoritas beragama Kristen dan Negeri Hitulama yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Untuk semakin mempererat tali persaudaraan di antara kedua negeri tersebut, pemuda Negeri Galala dan Hitulama menggelar salah satu budaya lokal yaitu budaya Panas Pela.

Budaya Panas Hela merupakan sebuah acara yang digelar untuk mempererat tali silaturahmi antara dua negeri atau desa, yang sudah terikat sumpah sebagai saudara oleh leluhur mereka.

Tradisi ini menyajikan tarian cakalelel yang sungguh heroik yang mampu membius dan menghipnotis para warga. Tarian yang termasuk dalam jenis tari perang ini menceritakan tentang tali persaudaraan tiga negeri yang berbeda agama di Ambon, Maluku.

Selain itu, penduduk negeri Galala dan Hitulama secara bersama-sama akan melakukan Ritual Makan Patita atau jamuan makan bersama pada prosesi “Panas Pela”.

Para warga yang mengikuti tradisi ini akan mengenakan pakaian dengan warna serba putih. Warna putih dipercaya sebagai simbol pemersatu tiga negeri yang berbeda.