Bangun Toleransi Umat Beragama Lewat Perkemahan Wirakarya

361

Perkemahan-Wirakarya-Kendari-640x385

kanalberita.net – Menanamkan sikap toleransi dapat dimulai dari langkah yang paling sederhana yaitu melalui pendidikan. Berasal dari pendidikan inilah para mahasiswa dapat diajarkan untuk belajar menerima dan memahami orang lain, berpikir secara bijak dan terbuka, dan lebih dapat terampil mengelola emosi dalam menghadapi konflik.

Kementrian Agama (Kemenag) bekerja sama dengan Kwartir Nasional menyelenggarakan Perkemahan Wirakarya Perguruan Tinggi Keagamaan (PW-PTK) XIII di Kendari, Sulawesi Tenggara, 16-22 Mei 2016 seperti dilansir republika.co.id.

Perkemahan ini sendiri memiliki tujuan untuk menanamkan nilai-nilai tentang kebersamaan, menghormati, kepekaan sosial, perbedaan, dan komitmen untuk perjuangan luhur cita-cita bangsa. Perkemahan ini juga mengemas pendidikan toleransi dengan nilai-nilai moderat yang sejalan beriringan dengan nafas pramuka.

Nantinya, buah dari pendidikan dalam perkemahan ini akan disebarkan ke berbagai masyarakat di seluruh penjuru Indonesia seperti dilansir Koran Sindo.

Perkemahan ini juga dirancang untuk sebagai upaya preventif untuk menyangkal paham radikalisme dan ekstremisme. Selain itu, Perkemahan Wirakarya ini sendiri melibatkan berbagai macam mahasiswa baik dari kalangan mahasiswa Hindu, Kristen, dan Islam. Peserta perkemahan yang beraneka ragam diharapkan dapat meningkatkan rasa nasionalisme bagi peserta.

Tidak hanya itu saja, para peserta yang mengikuti Perkemahan Wirakarya ini juga turut melibatkan mahasiswa asing dari berbagai kalangan.

Rektor IAIN Kendari mengatakan bahwa peserta akan menginap di area perkemahan dan melakukan home stay di rumah-rumah penduduk. Home stay yang dilakukan sendiri bertujuan untuk lebih dekat dengan masyarakat.

Perkemahan Wirakarya ini dikemas secara menarik. Para peserta nantinya akan dibagi dan menginap di lokasi selama tiga hari. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pun beraneka ragam. Seperti membersihkan tempat ibadah, bersih lingkungan, dan bedah rumah.

Seperti dilansir Antara News, para peserta perkemahan akan mengunjungi pura, vihara, dan gereja pada Jumat (20/6/2016). Pertama mereka akan mengunjungi pura, kemudian gereja, dan yang terakhir vihara.

Pertama para peserta menemui Dewa Made Sute (70) selaku imam Pura Wawa yang berasal dari Bali. Ia menyambut hangat peserta perkemahan yang berasal dari UIN, STAIN, IAIN, dan PTK lainnya.

Ia bercerita bahwa sudah sejak tahun 1979 menetap di Kendari karena program transmigrasi. Ia menambahkan bahwa pura yang berlokasi di Kota Kendari memiliki 200 umat. Mereka rutin melakukan ibadah setiap bulan mati atau setiap tanggal 15 bulan purnama. Pura tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Hindu saja. Akan tetapi pura tersebut juga kerap dijadikan sebagai tempat forum diskusi lintas agama.

“Gubernur Sulawesi Tenggara dan Walikota Kendari kerap berkenan mengunjungi Pura yang cukup besar ini,” tuturnya dalam siaran pers Kemenag, Jumat (20/6/2016) seperti dilansir antaranews.com.

Kunjungan para peserta berlanjut ke Gereja Ora Et Labora. Gereja ini sendiri bersebelahan dengan Masjid Agung Al Kautsar Kota Kendari. Dalam kesempatan ini, para peserta berjumpa dengan Pendeta Agustinus Alimin.

Gereja ini sendiri memiliki umat sekitar 365 orang yang dibangun pada tahun 1963. Pendeta Alimin mengapresiasi dan menyambut positif kegiatan kunjungan mahasiswa ke tempat – tempat ibadah.

“Sering-seringlah berkunjung kemari dan saya amat senang. Umat Kristiani juga saya kira senang sekali dengan kedatangan kalian semua,” ujar Alimin.

Alimin juga menambahkan bahwa ia siap sedia dalam kegiatan-kegiatan sosial, misalnya mebantu membangun tempat ibadah, terlibat dalam menyiapkan MTQ, dan juga fasilitas umum lainnya.

Dialog dan kerjasama harus menjadi komitmen bersama untuk mempererat persaudaraan kita, yang hidup di negara kesatuan dengan beragam agama, suku, ras dan antar golongan,” tambah Alimin.

Perjalanan kunjungan pun dilanjutkan ke Vihara “Eka Dharma Manggala” yang berlokasi di sekitar teluk Kendari. Vihara ini adalah salah satu dari empat vihara yang ada di Kendari. Kunjungan ke vihara ini membuat Mustofa, mahasiswa asal Afghanistan menjadi terkesan. Ia benar-benar mengagumi kerukunan yang dapat terjalin dengan erat di Indonesia.

“Saya tidak bisa membayangkan di negeri kami Afganistan bisa mengunjungi pura, vihara, dan gereja,” ujar mahasiswa semester VI UIN Maulana Malik Ibrahim ini.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ade, mahasiswa IAIN Langsa Aceh Timur Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUAD). Berkunjung ke pura Wawa merupakan pengalaman yang pertama baginya. Ade mengaku bahwa kunjungan yang dilakukanjuga turut membantu mengimplementasikan ilmu yang sedang ia pelajari. Mengingat ia belajar tentang perbandingan agama supaya dapat hidup rukun dan memahami orang lain.

“Nah ini bagi saya implelemtasi dari ilmu yang saya pelajari di IAIN,” kata Ade.

Tidak sampai disitu saja, rombongan peserta pun kemudian melanjutkan kunjungan ke Masjid Agung Al- Firdaus Kendari. Para peserta dengan keyakinan agama lain pun dapat belajar memahami dan mengerti kehidupan beragama dikalangan umat Muslim.