Pancaran Harmoni Kedamaian di Pura Lingsar, Lombok

611

Gapura menuju kompleks Pura Lingsar, Lombak Barat. Foto Adji K.

kanalberita.net – Sikap toleransi antarumat beragama sesungguhnya sudah lama terjalin di Indonesia. Bahkan di sudut-sudut Indonesia yang tidak tersentuh oleh media. Hanya saja, atmosfer-atmosfer positif ini sering tertutupi oleh insiden yang justru mencederai semangat kerukunan antarumat beragama.

Salah satu contoh semangat kerukunan yang tampak terlihat pada kehidupan umat beragama terdapat di Pura Lingsar, Lombok. Di pura ini, Anda akan menemukan dua tempat ibadah sekaligus dalam satu lokasi yang sama seperti dilansir travel.detik.com.

Pura yang terletak di Desa Lingsar, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, NTB ini dibangun pada tahun 1759. Pura ini didirikan oleh Anak Agung Ngurah. Pura ini sendiri terdiri dari 4 bagian dalam satu kompleks. Bagian-bagian tersebut antara lain Kemaliq, Pura Gaduh, Bharata Bagus Balian, dan Lingsar Wulon.

Pura Lingsar sendiri tidak hanya dijadikan sebagai tempat bersembahyang umat Hindu. Terutama di bagian situs Kemaliq dalam kompleks Pura Lingsar. Masyarakat Sasak, suku asli Lombok yang beragama Islam, secara rutin melakukan ibadah di tempat tersebut seperti dilansir kompas.com.

Hebatnya, umat Hindu dan umat Islam di Pura Lingsar dapat saling menghargai satu sama lain. Bahkan, mereka dapat bergantian dalam menggunakan Pura Lingsar untuk beribadah.

Baik warga Sasak yang beragama Islam dan warga keturunan Bali yang beragama Hindu di Lombok memiliki tradisi setiap tahunnya. Warga Sasak menggelar tradisi rarak kembang waru. Sementara itu, umat Hindu menyelenggarakan “odalan” atau perayaan hari jadi pura di Lingsar.

Uniknya, puncak perayaan diperingati dengan cara saling melempar ketupat antarwarga. Tradisi ini sendiri disebut dengan “perang topat”. Tradisi ini memiliki makna kebersyukuran dan persahabatan. Perang topat dilakukan pada bulan November-Desember setiap tahunnya. Perang topat dilakukan setelah masa panen dan sebelum musim tanam baru.

perang-topat-di-pura-lingsar

Jika pengunjung datang ke Pura Lingsar, sebagian besar dari mereka akan kaget bahwa pura tersebut ternyata tidak hanya digunakan untuk beribadah bagi umat agama Hindu. Hal ini dikarenakan tampilan bangunan yang menyerupai kompleks pura di Bali pada umumnya.

Saat memasuki kopleks pura, pengunjung tidak akan sulit menemukan gapura bentar yang terbuat dari bata merah berbentuk siku-siku. Di halaman kompleks pura juga terdapat dua kolam kembar yang dipisahkan oleh sebuah jalan.
Di sisi kiri pura sendiri terdapat situs Kemaliq atau dalam bahasa Sasak berarti keramat atau tempat suci. Dalam situs tersebut terdapat kolam mata air. Sedangkan di sebelahnya terdapat tempat mandi berupa pancuran.

Menurut pemerhati budaya Lombok, Salman Faris, Kemaliq diyakini oleh warga sasak sebagai tempat persinggahan Datuk Sumilir, seorang pendakwah Islam di Lombok pada sekitar abad XV. Datuk Sumilir juga menancapkan tongkat di sekitar lokasi Pura Lingsar.

Saat itu, daerah tersebut adalah daerah yang gersang. Titik tancap tongkat membuat air tersembur ke luar permukaan tanah. Hingga kini, mata air tersebut masih mengalir dan tak pernah kering.

Berkuasanya Kerajaan Karangasem dari Bali membuat daerah tersebut didirikan sebuah pura pada akhir abad ke 18. Meski begitu, Situs Kemaliq tetap dipertahankan dan terbuka bagi warga Sasak.

“Hal tersebut turut membantu mengikat hubungan baik antara orang Sasak dan Bali di Lombok,” kata Salman.