Kecanduan, 1000 Pelajar Rela Diajak Bercinta untuk Dapat Pil Koplo

768

ramadhan-bukannya-tarawih-jufri-malah-selingkuhi-istri-orang-1Xz-thumb

kanalberita.net – Kondisi generasi muda jaman sekarang semakin meprihatinkan. Ini digambarkan oleh Esthy Susanti, direktur eksekutif Yayasan Hotline Surabaya bersama 14 lembaga pemerhati anak lain saat hearing di Komisi D DPRD Kota Surabaya, Kamis (23/6/2016). Menurut EshtySusanti, Surabaya saat ini dalam kondisi darurat Pil Koplo.

Dilansir dari jawapos.com, disebutkan oleh Eshty bahwa setidaknya ada 1000 siswa di Kota Surabaya yang sudah kecanduan pil koplo atau double L. Lebih parah lagi, mereka tidak jarang rela melakukan hubungan intim agar bisa mendapatkan pil haram tersebut.

“Kami menangani sebanyak 1.000 anak bermasalah di Surabaya. Di antaranya 300 anak bahkan sudah hamil, jual diri, s*x addict (ketagihan s*ks), dan bermasalah dengan hukum. Yang sangat miris malah, mereka sudah sangat membudaya, mendapatkan obat obatan bahkan sabu dengan menukarnya dengan s*ks,” kata Eshty seperti yang dilansir Radar Surabaya (Jawa Pos Group), Jumat (24/6/2016).

Eshty menyatakan bahwa data tersebut dia ambil saat dirinya terjun langsung ke ke sekolah sekolah SMP di Surabaya. Menurutnya, SMP saat ini menjadi sasaran empuk para pengedar narkoba, mengingat anak-anak tersebut masuk masa puber.

35960_54322_pil koplo

Dia juga menjelaskan jika saat ini anak perempuan lebih agresif, tidak seperti jaman dulu, dimana anak-anak laki-laki dianggap lebih agresif. Menurutnya ini menjadi sebuah rantai persoalan yang pelik, karena ketika perempuan sudah ketagihan, mereka punya kecenderungan kuat akan mencari lelaki yang mau diajak bercinta.

Terkait hal ini, Kepala Dispendik Surabaya Ikhsan mengaku sangat khawatir dengan kenakalan remaja saat ini. Dispendik menyatakan telah sering kali menggelar kegiatan positif guna mengurangi kenakalan remaja.

“Kami ini sudah tidak kurang untuk antisipasi dini. Tadi pagi saja kami mengumpulkan guru dari Surabaya Barat analisis perkembangan anak dan deteksi dini pada anak,” kata Kepala Dispendik Surabaya Ikhsan.