Bali, Nyepi, Gerhana Matahari dan Indahnya Toleransi

418

b907ffff-a74b-4f02-8c52-44bc16192f62_169

kanalberita.net – Bali adalah salah satu pulau di Indonesia dengan penduduk penganut agama yang beraneka ragam. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, tercatat bahwa sebagian besar penduduk menganut agama Hindu (3.247.283 jiwa). Penganut agama Islam di Bali sendiri mencapai 520.244 jiwa. Disusul kemudian penganut Kristen Protestan, Katholik, Budha, dan Konghucu.

Pada hari Rabu, (9/3/2016) lalu adalah hari di mana umat Hindu melaksanakan ibadah Nyepi. Uniknya, pada saat itu ibadah Nyepi bertepatan dengan kedatangan gerhana matahari total seperti dilansir republika.co.id.

Saat gerhana matahari total tiba, seluruh umat Muslim dianjurkan untuk melakukan sholat gerhana matahari.
Kegiatan ibadah yang berbeda yang terjadi dalam satu waktu ini justru membuat persaudaraan antar umat beragama menjadi semakin erat. Umat Islam di Bali dapat melaksanakan sholat gerhana matahari dengan tertib, sedangkan umat Bali dapat melakukan Berata Penyepian dengan hening.

Hebatnya, kedua kegiatan ibadah antara umat Hindu dan Islam di Bali dapat dilakukan secara beriringan. Seperti kita ketahui bahwa ibadah Nyepi adalah kegiatan ibadah dimana umat yang melaksanakannya tidak diperbolehkan melakukan aktivitas apapun dan harus dilakukan dengan suasana hening. Umat Islam pun juga dapat melaksanakan Sholat Gerhana Matahari dengan tertib dan khusuk seperti dilansir viva.co.id.

Penasihat MUI Bali, Roichan Muhlis mengatakan bahwa perihal pelaksanaan ibadah Nyepi dan Sholat Gerhana sudah dibahas dalam pertemuan tokoh lintas agama yang tergabung dalam Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) di Bali.

Dilaporkan oleh republika.co.id, bahwa Roichan juga menyatakan jika tokoh-tokoh agama yang hadir dapat memahami dan mengerti situasi ini. Hal ini dikarenakan setiap warga memiliki kepentingannya masing-masing untuk beribadah

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Sudiana menjelaskan bahwa berdasarkan antara kesepakatan MUI Bali dengan FKUB, umat Muslim dapat melakukan Sholat Gerhana Matahari dengan memperhatikan kesepakatan yang telah dilakukan seperti dilansir viva.co.id.

Hangatnya persaudaraan yang terjalin di Bali pun mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Salah satunya adalah Oesman Sapta, Wakil Ketua MPR. Oesman mengatakan bahwa meskipun sebagian besar penduduk Bali menganut agama Hindu, namun semangat kebersamaan dan saling menghargai masih tetap terjaga.

“Warga Bali tetap menghormati Umat Islam untuk melaksanakan Sholat Gerhana Matahari meski waktunya bersamaan dengan perayaan Nyepi,” ujarnya di Desa Kamasan, Klungkung, Bali pada Kamis, (17/6/2016), dilansir tribunnews.com.

Menurut Oesman, hangatnya semangat persaudaraan di Bali seharusnya dapat dijadikan panutan bagi daerah-daerah lain. Ia tidak menampik bahwa saat ini Indonesia masih belajar berkenaan dengan toleransi antar sesama dan antar umat beragama.

Selain itu, tidak dapat dipungkiri bahwa di sudut-sudut daerah Indonesia masih dijumpai insiden perpecahan akibat kurangnya empati dan saling menghargai satu sama lain.

“Untuk itu, saya memberikan apresiasi atas toleransi setinggi-tingginya kepada masyarakat Hindu di Bali,” tuturnya.

Pria yang juga akrab disapa Oso itu menambahkan bahwa keberagaman dan perbedaan di Indonesia justru dapat dijadikan sebagai wadah persatuan.