PPI Belanda Sebut Reklamasi Teluk Jakarta Sebagai Ide Ketinggalan Jaman

331

dianggap-sensitif-revisi-perda-reklamasi-harus-hati-hati

kanalberita.net – Sebuah pernyataan mengejutkan dikeluarkan oleh para mahasiswa Indoensia di Belanda terakit rencana reklamasi Jakarta. Menurut mereka, membentuk Giant Sea Wall sebagai bentuk pertahanan pesisir sebagai ide ketinggalan zaman dan ditinggalkan oleh negara maju, seperti Belanda.

Dilansir dari antaranews.com, disebutkan jika pernyataan tersebut merupakan simpulan dari sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda bekerja sama dengan PPI Kota Den Haag dan Forum Diskusi Teluk Jakarta di Kampus International Institute of Social Studies, Den Haag, akhir pekan ini. Diskusi tersebut berjudul “Reklamasi Teluk Jakarta”

Sekretaris Jenderal PPI Belanda, Ali Abdillah menyatakan jika diskusi tersebut dilakukan setelah peserta menonton sebuah film berjudul “Rayuan Pulau Palsu.”

Mahasiswa program Doktoral dari University of Twente, Hero Marhaento memberikan pemaparan jika pendekatan hard infrastructure seperti reklamasi pulau dan pembuatan tanggul besar semacam itu sudah lama ditinggalkan. Hero yang merupakan merupakan kandidat doktoral di bidang Water Engineering menyatakan jika tekhnik semacam itu di Belanda sendiri sudah tidak dipergunakan.

Dijelaskannya jika pada saat sekarang Belanda melakukan pertahanan dengan metode “sand nourishment” yaitu pembuatan jebakan pasir di wilayah rawan abarasi, bukan dengan membuat tanggul raksasa di tengah laut. Bahkan di Belanda justeru saat ini merobohkan tanggul sungai dan beralih pada konsep “Room for the River”.

Kedua konsep tersebut menurutnya jauh lebih ramah lingkungan serta jauh lebih murah dibanding harus membangun hard-infrastructure seperti reklamasi pulau atau mendirikan tanggul besar.

Hero juga menegaskan jika membangun benteng menggunakan metode reklamasi atau tanggul raksasa hanya akan memunculkan masalah baru di masa yang akan datang.

Edwin Sutanudjaja, post-doktoral di bidang Hidrologi dari Utrecht University juga berpendapat senada. Edwin membantah argumentasi proyek reklamasi dan pembuatan Giant Sea Wall ini dapat menjawab persoalan banjir dan penurunan permukaan tanah di Jakarta.

Dijelaskannya bahwa adanya penurunan permukaan tanah di Jakarta itu disebabkan karena meningkatnya pembangunan yang tidak terkendali lagi. Solusi sebenarnya bukan dengan melakukan reklamasi, akan tetapi mengontrol pembangunan seperi mall dan properti lainnya yang sekarang gencar dilakukan. Akar masalah lain menurut Erwin adalah sentralisasi Jakarta serta urbanisasi.

Lebih lanjut Erwin menggunakan analogi bahwa reklamasi Teluk Jakarta sama halnya membangun septic tank raksasa. Pembangunan tanggul yang besar akan membendung air yang datang dari 13 anak sungai yang ada di jakarta. Sungai-sungai tersebut akan bermuara ke perairan mati.