Menikmati Indahnya Kolaborasi Grup Rebana dengan Band Gereja

585

13

kanalberita.net – Indonesia sesungguhnya memiliki caranya tersendiri dalam merawat keberagaman dan toleransi. Sebut saja di Bogor dan Malang. Umat Budha di kedua kota tersebut dapat hidup berdampingan dengan umat Muslim di sekitar vihara.

Begitu pula dengan kehidupan Di Mopuya Selatan, Sulawesi Utara. Antarumat beragama di Mopuya saling menghormati dengan saling berbagi dan terlibat dalam perayaan hari raya.

Tidak mau kalah, kehidupan antarumat beragama yang harmonis juga terjalin dengan hangat di Desa Balun, Lamongan, Jawa Timur. Bahkan warga Desa Balun memiliki tradisi yang unik yaitu nyangkruk.

Nyangkruk atau ngobrol santai antar tokoh agama di Desa Balun merupakan tradisi yang masih dipelihara hingga sekarang. Pada umumnya, warga desa membahas isu-isu sektarian untuk saling memahami dan merawat toleransi seperti dikutip jawapos.com.

Ketika memperingati hari besar keagamaan umat Kristen di gereja, pada umumnya pihak kepolisian akan berjaga di sekitar lingkungan gereja. Namun hal tersebut justru tidak tampak di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW). Tidak satu pun polisi yang tampak berjaga disana.

Kepala Desa Balun Khusyairi menerangkan bahwa umat beragama disini tidak pernah merasakan kecemasan. Seperti diketahui bahwa pada hari Kamis (5/5/2016) lalu umat Kristen sedang memperingati hari kenaikan Yesus dan dapat menjalankannya dengan damai. Padahal keesokan harinya, umat Islam memperingati hari Isra Mi’raj seperti dikutip jawapos.com.

 ”Di sini aman. Tidak perlu ada penjagaan ketat,” ujarnya seperti dikutip jawapos.com.

Keharmonisan antarumat beragama dalam kehidupan masyarakat Desa Balun, Lamongan ini patut diacungi jempol. Semangat kebersamaannya patut dijadikan sebagai teladan bagi daerah lain.

Secara historis, Desa Balun memiliki latar belakang kehidupan beragama yang seksi sejak masa lampau. Bahkan toleransi yang terjalin di Balun dapat dilihat dari ketiga lokasi beribadah yang saling berdekatan. GKJW berlokasi di sebelah lapangan sepak bola yang berhadapan langsung dengan Masjid Miftahul Huda. Sementara itu, lokasi pura tepat berada di belakang masjid.Khusyairi menambahkan bila ketika natal tiba, umat Muslim ikut berada di teras gereja dan menghibur umat Kristiani. Mer

eka menghibur dengan menggunakan rebana. Grup rebana masjid berkolaborasi dengan band gereja yang tampil dengan satu set alat musik lengkap.

Begitu pula sebaliknya ketika Hari Raya Idul Fitri tiba. Umat Kristen dan Hindu akan mendadak menjadi “seksi wara wiri” menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan menjelang tibanya hari kemenangan. Bahkan mereka membantu untuk mengkoordinasikan kedatangan jamaah yang akan beribadah.

Hari Raya Idul Fitri di Desa Balun seakan – akan bukan milik umat Islam semata. Bahkan semua warga desa Balun serasa memilikinya. Umat Kristen dan Hindu juga turut sibuk dalam menyiapkan jajanan yang akan disajikan.

“Ada melinjo dan permen juga. Kapan-kapan ke sini pas Idul Fitri kalau mau coba,” ucap pria yang menjabat kepala desa Balun sejak 2013 tersebut seperti dilansir jpnn.com.

Menjelang Hari Raya Nyepi tiba, seluruh pemuda Balun akan berkumpul di pelataran pura. Biasanya para pemuda baik pemuda Islam maupun Kristen akan menolong untuk membawakan ogoh-ogoh dan mengaraknya keliling desa.

Khusyairi menambahkan bahwa asal usul berkembangnya tiga agama di Balun hingga kini masih belum terungkap.

”Tapi, sampai sekarang hasilnya belum tahu. Jadi, sejarah mengapa ada tiga agama di Balun masih seputar informasi dari mulut ke mulut,” tuturnya..

Konon, masyarakat Balun dizaman dahulu mayoritas memeluk agama Hindu. Hingga akhirnya datanglah Sunan Tawang Alun atau yang akrab disebut dengan mbah Alun menjadikan desa ini sebagai tempat persembunyiannya.

Mbah Alun sendiri merupakan murid dari Sunan Giri IV yang juga menjadi raja Blambangan. Mbah Alun yang pintar mengaji membuat sebagian warga Balun mulai memeluk Islam.

Sementara itu, masyarakat Balun yang beragama Kristen berkembang di Balun dimulai dari munculnya G30S/PKI. Suasana saat itu yang tidak kondusif membuat situasi menjadi tidak aman. Disitulah seorang prajurit angkatan darat, Pak Bathi, dapat mengkondusifkan suasana.

Pak Bathi kemudian diangkat menjadi kepala desa Balun. Beberapa warga yang tertarik dan sebagian yang merasa berhutang budi pun mulai memeluk agama Kristen.

”Pak Bathi tidak pernah memaksa warga Balun untuk masuk agamanya. Yang ada, Pak Bathi justru berpesan agar warga Balun tetap rukun meski beda agama,” lanjut Khusyairi seperti dikutip jawapos.com.

Kehidupan harmonis di desa Balun sendiri bukan tanpa tantangan. Misalnya ketika terjadinya insiden Tolikara pada Oktober 2015 lalu. Warga Balun kemudian berkumpul untuk nyangkruk atau ngobrol santai mengenai isu-isu keagamaan yang sedang hits serta menghimbau untuk tidak terpancing emosi dalam keadaan apapun.

Acara nyangkruk yang diadakan pun dapat diadakan di tempat-tempat santai dengan banyak orang. Dengan begitu, warga yang suatu saat akan mengalami keributan akan menjadi tidak ribut. Hal ini disebabkan oleh tokoh agama yang saling menghargai sehingga masyarakat juga dapat turut meneladani semangat tersebut.

Warga desa Balun juga menamai gapura desa mereka dengan sebutan “Desa Pancasila”. Disini juga terdapat salah satu tradisi unik yang dilakukan bersama-sama yaitu tradisi ngaturi.

Ngaturi merupakan serangkaian adat hajatan di Lamongan. Pada acara tersebut, semua pria di desa tersebut wajib menggunakan peci baik warga beragama Islam, Kristen, maupun Hindu.

”Kalau sudah berkumpul di acara ngaturi, orang yang bukan warga Balun pasti tidak bisa membedakan mana yang Muslim, Kristen, atau Hindu,” ujar Sutrisno, Ketua GKJW Jemaat Lamongan Wilayah Balun seperti dilansir jawapos.com.

Selepas maghrib, masjid di desa Balun juga mengumandangkan qiro. Namun, ketika hari Minggu tiba, bacaan tidak dikumandangkan, kecuali adzan.

Seperti diketahui bahwa secara demografis, Desa Balun memiliki jumlah penduduk kurang lebih sebanyak 5200 jiwa. Pemeluk agama Islam di Desa Balun sebanyak 76 persen, Kristen 11 persen, dan Hindu 13 persen. Bonus demografi seperti ini justru tidak dapat dijadikan sebagai alasan untuk tidak bertoleransi dan menjaga satu sama lain. Mengapa harus hidup dalam keributan jika dengan damai hidup akan menjadi lebih indah?