Tak Menyangka Motornya Laku Rp. 36 Juta, Uangnya Malah Di…

685

140910456201614452780x390

kanalberita.net – Hardjosudiro (80) tak pernah menyangka motonya yang dulu dia beli seharga Rp. 300 ribu bisa laku Rp. 36 juta. Pensiunan guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta menjual motor yang penuh sejarah tersebut lantaran sudah tidak bisa memakainya lagi.

Mbah Hardjo, begitu dia akrab disapa telah pensiun sejak 2014 yang lalu. Kini dia hidup di di rumah di kawasan Wirobrajan Yogyakarta bersama istrinya, Theresia Sutarti (79). Sementara anak satu-satunya telah berkeluarga dan kini tinggal di Bogor, Jawa Barat.

Pensiunan guru kimia yang juga pernah aktif menari tersebut mengisahkan bagaimana awalnya dia membeli motor tersebut di tahun 1977. Suzuki produksi tahun 1977 berwarna hijau setelah diminta oleh Romo pimpinan SMA Kolese John De Britto. Dirinya sebelumnya hanya menggunakan sepeda onthel ke sekolah, padahal jarak rumahnya dengan sekolah cukup jauh.

“Saya sebelumnya naik sepeda onthel dari rumah Tirtodipuran ke De Britto, lalu Romo meminta beli motor dan dipinjami uang. Ya sudah, saya beli motor ini. Harganya saat itu Rp 300.000, bayarnya potong gaji satu bulan Rp 15.000,” ucapnya, dilansir dari viva.co.id.

Motor tersebut bagi Mbah Hardjo penuh kenangan dan sejarah. Dia mengaku tak pernah sekalipun membeli motor lain, hanya itulah satu-satunya motor yang pernah dia miliki sepanjang hidupnya.

Seiring berjalannya usia, Mbah Hardjo kemudian berniat untuk menjual moter tersebut karena sudah tak sanggup lagi memperpanjang SIM C miliknya. Terlebih lagi, kondisi tubuhnya sudah tidak memungkinkan. Dokter melarangnya untuk mengendarai motor karena saat ini sedang menggunakan alat pacu jantung.

“Pada usia ini, saya tentu tidak bisa mendapatkan SIM. Kesehatan saya juga tidak memungkinkan. Jadi, saya niat menjual sepeda motor itu,” terangnya.

Niatan untuk menjual motor tersebut lantas dia sampaikan ke mantan muridnya, Gani Sucahyo, yang saat ini menjadi dokter gigi di Kediri, Jawa Timur. Berawal dari Gani ini yang membuat motor tersebut berharga sangat mahal.

Gani kemudian berinisiatif melelang motor tersebut di group alumni SMA Kolese John De Britto. Hasilnya cukup fantastis, penawaran tertinggi sebenarnya sebesar Rp. 15 juta, akan tetapi para alumnus itu menghimpun dana untuk menambahinya hingga mencapai Rp. 36,4 juta.

“Ya tidak mengira sebesar itu, tetapi memang di siswa dan alumni De Britto tertanam jiwa menolong. Dulu saat saya di rumah sakit, mereka juga patungan untuk membantu,” sambung Mbah Hardjo penuh haru.

Meski demikian, Mbah Hardjo tidak lantas menikmati sendiri uang hasil lelang tersebut. Uang sebanyak itu ternyata sebagian besar dia sumbangkan lagi ke sebuah yayasan.

Dilansir oleh kompas.com, disebutkan bahwa Mbah Hardjo menyumbangkan uang sebesar Rp 20.000.000 kepada dua yayasan anak difabel Bakti Luhur di Malang, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Sementara sisanya dia mengaku akan dibuat untuk memperbaiki sumur bor di rumahnya.

Mbah Hardjo menegaskan jika niat untuk menyumbangkan uang ke yayasan itu pun diberitahukan ke kepada mantan murid-muridnya, dan mereka semua mendukung langkah tersebut.