Soal Jilbab, Ahok Bikin Goal Tapi Off Side

433

Oleh: Lazuardi

kanalberita.net – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok kembali mengeluarkan pernyataan kontrofersial. Dirinya menolak dan melarang sekolah negeri untuk mewajibkan siswinya mengenakan jilbab.

Menurutnya, jibab harus dikenakan karena kesadaran bukan lantaran dipaksa. Sebab jika terpakasa hasilnya jibab tersebut dikenakan secara main-main yang pada akhirnya memperburuk citra agama itu sendiri.

“Anda ngajarin dia baik-baik sampai nanti dia berpikiran bahwa pakai kerudung inilah bagian dari akhlak saya sebagai seorang Muslim, dia akan pakai. Dia akan pakai dengan terhormat. Bukan dia pakai terus pas keluar (sekolah) dia buang. Bukan dia pakai, tetapi kelakuannya mempermalukan agama,” tutur Ahok (Baca: Ahok Melarang Sekolah Negeri Wajibkan Pakai Jilbab Untuk Siswinya).

Dari tinjauan hakikat dalam beragama, apa yang dinyatakan Ahok tersebut tidak salah. Sejatinya memang setiap tindak laku manusia dalam menjalankan perintah agama didasar pada kesadaran hati, bukan karena paksaan.

Apa yang telah dilontarkan Ahok tersebut merupakan goal cantik. Bagaimana kerudung dikenakan sejalan dengan kesadaran diri dan mulianya akhlak.

Meski itu goal indah, bagi saya, Ahok menciptakannya dalam posisi off side. Secara tidak langsung cara pandang Ahok mencerminkan betapa memang pendidikan di negeri ini menempatkan moral, akhak dan juga agama di posisi yang teraleniasi dari nilai-nilai kehidupan lainnya.

Ahok off side, karena dia berposisi sebagai pemimpin. Sejatinya dirinya yang berada dibarisan yang tepat untuk mengembalikan fungsi pendidikan sebagai media menanam akhak itu sendiri.

Ahok dalam pernyataan soal larangan pemakaian jilbab tersebut juga tidak konsisten. Dirinya katanya tidak ingin kebijakannya itu dihubung-hubungkan dengan agama, namun dibagian lain ia menggunakan nilai-nilai agama dalam membenarkan keputusannya.

Ahok secara tidak langsung masuk ke dalam wilayah orang-orang muslim yang masih berdebat soal jilbab itu wajib atau tidak.

Dari tinjauan pendidikan agama, di mana kewajiban tersebut bagian dari upaya sekolah yang berposisi sebagai instrumen pendidikan. Kewajiban mengenakan jilbab bisa diterjamahkan sebagai bagian dari mendidik siswinya untuk berperilaku sesuai syariat Islam.

Jadi kalo di sekolah pelajaran matematika mengatakan dua ditambah tiga sama dengan lima, maka semua murid wajib menerimanya dan menghafalnya. Akan tetapi jika pelajaran agama di bukunya menyatakan jilbab adalah pakaian wajib bagi muslimah, apakah sekolah tidak boleh menwajibkan muridnya mengenakan jilbab?

Dalam konteks bahwa berjilbabnya ikhlas atau tidak, terpaksa atau sukarela dan lain sebaigainya itu bukan poin utamanya, seperti halnya murid pun wajib menerima dua tambah tiga sama dengan lima.

Itu semua pendapat saya dengan mengabaikan soal perdebatan mengenai jilbab itu wajib atau tidak. Karena saya sendiri tidak memungkiri bahwa sebagian dari muslin ada yang berpendapat bahwa kerudung bukanlah sesuatu yang wajib.

Namun saya kembalikan kepada pernyataan Ahok bahwa jilbab atau kerudung bukan identitas agama Islam. Maka kemudian kebijakan sekolah setidaknya ditanggapi santai saja, anggap kerudung tersebut adalah aturan bagaimana berseragam.

Maka anggap saja aturan seragam resminya adalah menutup kepala bagi perempuan. Tanpa perlu dipaksakan untuk menterjemahkannya sebagai pakaian Islam, karena Ahok sendiri yang menyatakan kerudung bukanlah identitas Islam.

Saya secara pribadi juga sangat tidak setuju jika berjilbab, salat, puasa dan lain sebagainya itu dipaksakan. Harusnya itu benar-benar hadir dari lubuk hati dan kesadaran dalam beragama. Tulisan ini sekedar mengkritisi ketidakkonsistenan Ahok dalam memilih alasan pelarangan tersebut.

Itu sebabnya saya menyebut bahwa Ahok berhasil bikin goal tetapi menciptakannya dalam posisi off side.