Larangan Mewajibkan Jilbab di Sekolah, Pemuda Muhammadiyah: Pak Ahok Keliru

401

kanalberita.net – Pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengenai pelarangan sekolah negeri mewajibkan jilbab di tetang oleh beberapa pihak. Salah satu pihak yang mengkritisi kebisakan Ahok tersebut adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak.

Dilansir dari republika.co.id, Dahnil mengatakan jika sekolah mewajibkan siswinya untuk menggunakan jilbab adalah sesuatu yang wajar.

Lebih lanjut, Dahnil menegaskan jika sekolah sebenarnya sedang ingin melatih para peserta didiknya untuk menunaikan syariat Islam, dalam hal ini perihal menutup aurat.

“Keliru kalau Pak Ahok melarang usaha sekolah yang mewajibkan siswinya mengenakan jilbab saat Ramadhan, karena itu instrumen pelatihan untuk umat Islam,” Tegasnya, Minggu (5/6/2016).

Dahnil juga meminta Ahok untuk tidak mengajari perihal pemahaman Islam. Sebelumnya Ahok menyatakan jika memakai jilbab adalah panggilan iman, sehingga jika dipaksakan hanya mereka kadang menggenakannya secara main-main.

“Yang harus dipahami itu adalah sebuah kewajiban dan instrumen latihan. Memang betul itu (pemakaian jilbab) adalah panggilan iman, tapi untuk anak-anak harus dilatih. Ada proses pendidikan dan pelatihan di sana,” jelas Dahnil.

Pada Sabtu, (4/6/2016) Ahok menyampaikan larangan sekolah untuk mewajibkan anak didiknya untuk mengenakan jilbab. Larangan tersebut saat memberi pengarahan kepada 1.700 kepala sekolah TK, SD, SMP, SMA, SMK dan pejabat struktural eselon III serta IV di lingkungan Dinas Pendidikan DKI Jakarta, di Gedung Yayasan Budha Tzu Chi. (baca: Ahok Melarang Sekolah Negeri Wajibkan Pakai Jilbab Untuk Siswinya)

Ahok berdalih bahwa larangan tersebut agar siswi tidak mengenakan jilbab secara main-main. Dirinya juga mengaku bahwa kebijakan seperti itu pernah dia terapkan saat dirinya menjabat sebagai Bupati Belitung Timur, dimana daerah tersebut sebenarnya berpenduduk 93 persen muslim.