Menelan Kotoran Kucing

498

kanalberita.net – Saya sedikit lupa tahun berapa saya membaca sebuah artikel dari Cak Nun, Emha Ainun Nadjib, yang menggambarkan bahwa ada generasi yang malas untuk mengunyah segala sesuatu, maunya instan. Masuk surga secara gampang, pengen kaya tanpa ada kesulitan, pengen mengerti seuatu tanpa harus membaca berulang-ulang bahkan maunya langsung dijabarkan secara detail.

Itu ditulis bertahun-tahun yang lalu, sebagai bentuk keprihatinan beliau tentang betapa kita punya masalah dengan kebudayaan dalam mencerna segala sesuatu, dalam menerima segala sesuatu. Harus punya gigi, agar kacang yang masuk ke mulut bisa dikunyah terlebih dahulu, agar kerupuk yang masuk tidak sekedar diemut lantas ditelan begitu saja.

Tahun 1992, oleh Cak Nun juga saya kutip pernyataan beliau di sebuah artikel: “Kalau kita baca Koran, kita harus punya perhitungan rangkap sebelum menyimpulkan sesuatu. Harus dikunyah, tak boleh ditelan, apalagi di-untal begitu saja”

Ini ditulis tahun 1992, silahkan gambarkan sendiri situasi politik, atmosfir media-media saat itu. Di tahun seperti itu saja, dimana arus informasi tidak sederas saat ini, tidak bertubi-tubu layaknya yang terjadi sekarang, Cak Nun memberi pesan sedemikian rupa. Maka jika pesan itu ditulis sekarang, maka saya bisa memberikan perbandingan bahwa saat ini kita harus punya daya kunyah ribuan kali lipat, sebanding dengan banyaknya informasi yang menyerbu kita tiap hari.

—–

Belakangan ini, kita sering dibombardir pesan berantai di media sosial, di whatsapp, di BBM dan lain sebagainya berbagai informasi yang tidak jelas kebenarannya, sumber informasinya dan bahkan tidak jelas maksud serta tujuannya.

Sebagain masyarakat kita entah karena percaya begitu saja tanpa mengunyahnya terlebih dahulu, atau mungkin karena menganggap menyebarkan pesan berantai itu gratis, tidak perlu biaya apapun hanya mengeluarkan sedikit energy untuk menggerakan jempol, sehingga dengan mudah beberapa pesan menyebar luas tanpa kendali.

Di kondisi tertentu malah penyebar informasi ini punya niatan baik, memberi kabar kepada saudara, teman dan kenalannya tentang segela sesuatu yang dianggapnya penting, namun karena kemampuan menganalisa tertutupi oleh niatan baik yang meletup-letup sehingga tidak sadar bahwa pesan yang disebarkan tersebut adalah salah satu dari modus sebuah penipuan.

Suatu saat saya pernah “menegur” seorang sahabat yang menyebar sebuah informasi lowongan pekerjaan. Saya tahu betul bahwa itu informasi bohong yang berujung pada penipuan, karena sebelumnya saya sudah pernah menganalisanya dan kebetulan pernah membaca informasi bahwa pesan tersebut sebenarnya bohong.

Sahabat saya ini berdalih hanya meneruskan informasi dari temannya. Seperti yang saya gambarkan di atas sebelumnya, bahwa niatan mulia memberikan informasi tentang adanya peluang kerja kepada teman dan keluarganya telah membuat daya kritis terhadap informasi tersebut melemah bahkan bisa dibilang habis, nol. Kondisi seperti ini bisa dipengaruhi oleh banyak sekali factor, di mana actor utamanya tetap soal ketidakmampuan mengunyah informasi.

Apa yang terjadi akhir-akhir ini sepertinya jauh lebih parah dibanding dengan apa yang dipaparkan oleh Cak Nun sebelumnya. Jika Cak Nun sebelumnya memberikan analogi sebagai generasi ompong, alias tidak punya gigi, maka saat ini sepertinya lebih dari itu, tidak sekedar tak punya gigi, akan tetapi tidak memiliki lidah.

Jika dimasa lalu, mereka hanya tidak mampu mengunyah, saat ini sudah kehilangan daya rasa. Apapun yang masuk, entah itu sate atau nasi busuk tetap saja ditelan.

Informasi-informasi yang ada entah itu baik atau buruk, bahkan yang sudah jelas-jelas keluar dari seseorang yang terkenal suka fitnah pun dielu-elukan dan disebarkan tanpa sedikitpun rasa bersalah. Tidak peduli kualitas informasinya itu mutiara atau batu kerikil, tetap dilempar begitu saja. Jikapun ada pertimbangan-pertimbangan dalam dirinya, sekarang tinggal factor: “apakah informasi tersebut sesuai dengan kecenderungan politik pilihan saya atau tidak? sejajar dengan letupan kemarahan saya atau bukan? menguntungkan posisi saya atau malah meruntuhkan?”.

Di Media online, siapa yang tidak kenal dengan Si Jon ini. Sering terjungkal oleh kasus penyebaran berita palsu dan cenderung fitnah. Jujur, saya sudah pada level tidak prihatin dengan apa yang dilakukan Si Jon, karena saya menempatkan beliau sebagai bentuk keanekaragaman jenis-jenis manusia ciptaan Tuhan. Rasa prihatin saya paling dalam ada pada kenyataan bahwa banyak teman, saudara dan kenalan saya yang sudah ompong, juga kehilangan lidahnya sehingga menelan apa saja yang disodorkan oleh si Jon, bahkan saat dia menghidangkan kotoran kucing. []

Penulis : Lazuardi